NGOFI: Semakin Banyak Umat Katolik Menikmati Membaca Kitab Suci
Kebon Dalem - Bertempat di ruang R1 Pastoran Kebondalem, komunitas ABA hadir kembali dengan kegiatan Ngofi: Ngobrol Firman. Pada kegiatan yang diadakan pada hari Senin, 18 Mei 2026 itu, Rm Willem Pau menjadi pembicaranya.
Membaca Kitab Suci kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai kegiatan rohani yang dilakukan saat misa atau doa pribadi. Dalam suasana sharing dan pendalaman iman yang hangat, banyak umat Katolik mulai menemukan bahwa Sabda Tuhan adalah sumber kehidupan yang nyata dan relevan bagi keseharian.
Dalam pertemuan tersebut, umat diajak untuk menyadari bahwa Kitab Suci bukan hanya kumpulan tulisan kuno, melainkan sarana Allah menyapa manusia sampai hari ini. Dari membaca dan merenungkan Sabda Tuhan, umat perlahan memahami banyak hal mendasar dalam hidup beriman.

Pertama, Kitab Suci membantu umat mengenal siapa sebenarnya Allah: Allah yang penuh kasih, setia, dan terus bekerja dalam kehidupan manusia. Kedua, umat juga diajak mengenal siapa sebenarnya manusia, dengan segala kelemahan, harapan, dan panggilannya untuk hidup dalam kasih.
Selain itu, umat belajar memahami bagaimana Allah berbicara kepada manusia melalui peristiwa hidup, doa, maupun Sabda-Nya sendiri. Dari sana muncul kesadaran baru tentang bagaimana seharusnya manusia menjawab panggilan Tuhan: bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat tindakan nyata.

Pembacaan Kitab Suci juga menuntun umat untuk semakin memahami bagaimana seharusnya hidup dan berkarya. Sabda Tuhan menjadi pedoman dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, hingga cara memperlakukan sesama. Bahkan, umat diajak untuk memaklumkan keagungan Tuhan dengan menghadirkan keselamatan, penghiburan, dan kasih bagi orang lain.
Semangat ini perlahan menumbuhkan antusiasme baru di tengah umat. Semakin banyak orang mulai meluangkan waktu untuk membaca Kitab Suci, baik secara pribadi maupun bersama komunitas. Namun, yang terpenting bukanlah seberapa banyak ayat atau halaman yang dibaca. Yang utama adalah seberapa konsisten dan sungguh hati seseorang membangun relasi dengan Tuhan melalui Sabda-Nya.
Sebab pada akhirnya, Kitab Suci bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk dihidupi.